Din Syamsuddin: Bangsa Ini Jangan Hingga Terpecah Belah Hanya Alasannya Yaitu Perbedaan Politik


PWMU.CO – Pimpinan persyarikatan dan organisasi otonom Muhammadiyah sebaiknya lebih cukup umur dalam berpolitik. Jangan hingga insiden politik dikala ini memecah belah warga Muhammadiyah. Apalagi menjadikannya sebagai kasus hidup mati.
Hal itu disampaikan oleh Prof Din Syamsuddin pada Silaturahim Halal bi Halal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (22/6/19).
“Sebuah kerugian besar dan yaitu bentuk kejahiliyahan modern bila warga maupun pimpinan Muhammadiyah putus korelasi silaturrahim gara-gara berbeda aspirasi dan pilihan politik,” ujar Din.
Menurutnya, bagi insan cukup umur dan negarawan maka perbedaan politik itu biasa. “Muhammadiyah harus lebih melihat ke depan dan yang ini biar berlalu. Kita telah berusaha, maka faida fa’alta tawakallah, karenanya serahkan kepada Allah,” pesan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Labu Jakarta ini.
Din menegaskan, politik Muhammadiyah yaitu amar makruf nahi munkar. “Itu politik nilai. Ayat waltakum minkum dan seterusnya yang banyak dibahas pada Kajian Ramadhan 1440 H PWM Jatim yang kemudian merupakan satu paket menarik biar umat ini jangan berpecah belah,” ujar Din.
Bangsa ini, sambungnya, jangan hingga terpecah belah dan saling membunuh hanya alasannya yaitu perbedaan politik. Dahulu pasca-Nabi wafat, umat Islam hampir terpecah belah, tetapi Allah masih menyelamatkannya.
“Pertanyaannya bila kini terjadi lagi perpecahan, apakah Allah masih akan menyelamatkan kita lagi. Ada sebagian yang beropini tidak lagi, maka harus dihindari perpecahan umat ini,” kata Din.
Din mengatakan, waltakum minkum sebagai ayat favorit Muhammadiyah bahu-membahu yaitu solusi untuk menghindari perpecahan. “Maka harus ada yang mengajak kepada kebaikan, termasuk gerakan membangun amal perjuangan Muhammadiyah (AUM), mengajak orang kepada yang menghidupkan, tetapi harus menjadi mushlih atau ishlahatul bait dulu, yakni harus menjadi pendamai-pendamai atau rekonsailer-rekonsailer,” ungkapnya.
Menjadi mushlih atau pendamai itu, lanjut Din, mustahil bila beliau yaitu bab yang terlibat. Tidak mungkin bila beliau yaitu pihak yang bermain. Maka beliau hanya menjadi objek pendamai, bukan merupakan subjek pendamai. “Maka Muhammadiyah perlu mengambil tugas sebagai pendamai ini, dan syaratnya jangan menjadi pihak yang didamaikan,” tegasnya.
Islam mengajarkan dan menganjurkan menawarkan maaf. Orang yang tidak meminta maaf pun kepada kita maka harus dimaafkan. Memang berat, tapi itulah tuntunan Islam.
“Memberikan maaf kepada manusia, bukan hanya sesama Muslim. Untuk dapat memaafkan sesama manusia, maka berdamailah dulu dengan diri sendiri,” tandasnya.
Jangan menjadi orang yang tidak siap kalah dan hanya mau menang. “Perhatikan filsafat Jawa yang sangat Islami ini. Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, lan digdoyo tanpo aji. Maknanya menyerang tanpa kawan, menang tanpa merendahkan, dan sakti tanpa pusaka,” pesannya yang disambut tepuk tangan hadirin. (Sugiran)


