Kata Pakar Pariwisata Soal Wisata Halal Tak Ada Kaitan Dengan Sara

FAST DOWNLOADads
Download





Jakarta – Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal (PPHI) Riyanto Sofyan kerberatan wisata halal diplesetkan dengan nada SARA, menjadi Arabisasi dan Islamisasi.
Menurutnya, membangun merk dan mensosialisasikan wisata halal di Indonesia ini bukan kasus enteng. Sehingga ia berharap tidak dirusak hanya untuk kepentingan jangka pendek dan politik praktis.


Pengarah Tim Pariwisata Halal itu menjelaskan bahwa, istilah pariwisata halal itu pertama kali booming di dunia global bukan dari Indonesia melainkan dari negara-negara yang dominan non-muslim.


“Tujuannya untuk mendatangkan wisatawan muslim mancanegara, menyerupai warga Malaysia, Singapore, Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, semoga mereka tetap nyaman berwisata dan tidak melanggar larangan agama, terutama dikala makan dan minum. Juga ada kemudahan untuk ibadah, menyerupai musala, tempat wudu, arah kiblat,” ujar Riyanto Sofyan dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/6/2019).






Kata halal berasal dari bahasa Arab, dan berlaku di seluruh dunia. Saat ini Jepang, Korea, Thailand, Filipina, juga gencar mengkampanyekan halal food sebagai gaya hidup berwisata. Ini semacam extended services and facilities for muslim travelers.


Mirip dengan branding vegetarian buat travelers India. Karenanya istilah halal itu sudah merupakan branding bagi kebutuhan wisatawan muslim di waktu berwisata. Riyanto menjelaskan bahwa misi pariwisata yakni mendatangkan devisa untuk negara, menggerakkan ekonomi lokal, serta mendorong trade and investment.


“Terlalu jauh dari hipotesa: Arabisasi atau Islamisasi, yang ditudingkan pada Menpar Arief Yahya dan Bupati Azwar Anas di Banyuwangi. Apalagi mengaitkan dengan salah satu partai? Logika itu perlu diluruskan, alasannya sanggup menjurus ke duduk kasus SARA,” tuturnya.


Menurut Riyanto, bangsa Indonesia terlalu mahal untuk dicemari oleh bangunan berpikir yang tidak berdasar. Seperti pantai yang terpisah antara laki-laki dan wanita, maksud hal itu bukan mengislamisasikan pantai atau wisata.


“Karena pantai khusus untuk perempuan juga ada di Rimini, Italy yang dominan beragama Katolik. Pantai ini karenanya banyak dikunjungi wisatawan muslim, itu normal-normal saja. Menghormati seruan para ulama di tempat sekitar itu tidak ada salahnya,” terangnya.


Menghormati budaya dan tradisi lokal itu ialah bab dari Kode Etik Pariwisata Dunia, yang telah diratifikasi oleh UNWTO, di mana aktivitas pariwisata harus menghormati budaya dan nilai lokal (local wisdom) semoga tidak meresahkan masyarakat di sekitar atraksi di destinasi.


Bahkan Arief Yahya juga mempunyai tim percepatan pariwisata berkelanjutan, atau Sustainable Tourism Development, juga Tim Eco Tourism, yang selalu memikirkan responsible tourism. Tradisi lokal, budaya setempat itu mempunyai kearifan yang tinggi.


Oleh alasannya itu, Arief Yahya yang berlatar belakang professional itu selalu menyampaikan “Semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan.”


Riyanto Sofyan menegaskan lagi, bahwa pariwisata halal yang dikembangkan dunia global ialah Extended Services and Facilities, untuk wisatawan muslim yang selama ini kurang terfasilitasi menyerupai tempat salat, berwudu, masakan halal dan lainnya.


Dia yang juga pelaku perjuangan pariwisata di Indonesia juga sering menerima pertanyaan wacana jaminan halal akan masakan di restoran dan rumah makan yang bagi mereka jaminan halal itu dibuktikan dengan sertifikat.


“Kita sering menertawakan aneh, di Indonesia kok masih tanya halal dan haram! Tetapi, wisman kan boleh merasa khawatir dan ingin memastikan dengan akta resmi halal,” ungkapnya.


Dunia global booming pariwisata halal alasannya begitu besarnya pasar wisatawan muslim dan juga daya beli mereka. “Istilah Pak Menteri Arief Yahya, size-nya besar, sustainability-nya besar dan spending atau spreadn-ya juga besar. 3S juga singkatannya,” ungkap Riyanto.


Potensi wisawatan yang berasal dari Timur Tengah, Malaysia, Singapore besarnya sama dengan wisatawan dari China, baik dari segi jumlah outbond tourist-nya maupun pengeluarannya selama berwisata.


Jadi Wisata Halal ini bukan hanya ceruk pasar gres tetapi sudah merupakan pasar utama sumber wisman yang sanggup dikembangkan. Indonesia juga ingin mengambil segmen pasar ini yang belum digarap secara optimal selama ini.


Rencana Kemenpar untuk menerbitkan Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Halal ialah upaya semoga ada teladan bagi pelaku perjuangan dan pihak terkait dalam pemenuhan “Extended Services and Facilities” (bagi kebutuhan wisatawan muslim) sehingga wisatawan muslim mancanegara dibutuhkan tiba berbondong-bondong ke Indonesia karena tersedianya kebutuhan mereka selama berwisata di Indonesia. Maka, antara ekspektasi wisatawan muslim dan deliverable-nya sesuai.


Oleh alasannya itu, Riyanto Sofyan meminta semoga Arief Yahya terus konsisten berbagi semua pasar potensial pariwisata untuk berkunjung ke tanah air. Termasuk wisata halal yang semakin mempunyai reputasi.


“Menjamin kepuasan para wisatawan, ialah amanah Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 wacana Kepariwisataan dan Undang-Undang No. 8 tahun 1999, wacana Perlindungan Konsumen, Kaprikornus tidak ada yang ilegal wacana penyelenggaran pariwisata halal,” kata Riyanto.


Riyanto mengulangi lagi, bahwa aliran ini juga sekaligus menunjukkan pemahaman pada pelaku dan pihak terkait bahwa pariwisata halal hanyalah extended service and facilities. Sifatnya pilihan dan bukan kewajiban dan tidak dimaksud untuk merusak (Islamisasi/Arabisasi), budaya atau nilai-nilai lokal atau tema pariwisata pada suatu destinasi/atraksi yang sudah berjalan baik, tetapi justru memperluas dan meningkatkan jangkauan pasar wisatawan.


Ketua Tim Percepatan Wisata Budaya Kemenpar Taufik Rahzen enggan menanggapi tafsiran sejarah soal Osing dan Banyuwangi. Hal itu alasannya hanya akan mengeruhkan suasana, dan menjadi materi polemik sejarah yang tidak produktif.


“Apa yang sudah dilakukan Pak Menteri Arief Yahya terhadap wisata halal itu melampaui pengertian untuk orang Islam. Mencakup kebutuhan pencinta vegetarian, penghormatan budaya lokal, keunikan pengalaman beragama, pameran bermakna yang dimiliki oleh semua agama,” katanya.


Dia setuju, intisari wisata halal itu pada masakan dan kemudahan untuk ibadah di atraksi maupun destinasi, menyerupai musala, tempat wudu, arah kiblat, dan lainnya. Itu pula yang dilakukan di kepingan bumi lain, dikala berbagi wisata halal. (mul/mpr)











>>Artikel Asli<<


FAST DOWNLOADads
Download
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url